Anies Maju Cawapres, Sandi Jadi Gubernur


Gonjang ganjing siapa penantang Jokowi kini mulai jelas. Prabowo telah mendeklarasikan diri sebagai capres penantang Jokowi didukung Gerindra dan PKS. Selain Prabowo, masih belum jelas siapa yang akan maju.

Kini Gerindra dan PKS, sedang mencari cawapres yang cocok untuk mendampingi Prabowo. Dari PKS, Aher nampaknya calon yang kuat untuk diajukan. Sedangkan Gerindra terlihat menggadang-gadang Anies Baswedan untuk mendampingi Prabowo. Hal itu nampak dari keterusterangan Sandiaga Uno yang beberapa hari lalu bertemu dengan Jusuf Kalla membicarakan kemungkinan Anies jadi Cawapres. Meski Kalla menolak adanya pembicaraan itu, tapi informasi dari Sandiaga tidak bisa dinafikan.

Anies juga terlihat dalam survei yang diadakan lembaga lembaga-lembaga survei di tanah air, terbukti paling atas elektabilitasnya mendampingi Ketua Umum Gerindra.

Apalagi survei elektabilitas calon presiden kini jungkir balik. Setelah banyak survei mengunggulkan elektabilitas Jokowi jauh di atas Prabowo, survei dari INES menunjukkan angka yang lain. Indonesia Network Election survei (INES) merilis hasil survei elektabilitas bakal calon presiden 2019. Jokowi elektabilitasnya hanya 27,70 persen, sedangkan Prabowo 50,20%.

Hasil survei Indikator Politik Indonesia (Indikator) sebelumnya menunjukkan bahwa secara keseluruhan (yang merasa sangat puas dan cukup puas atas kinerja) dengan Jokowi 71,3 persen, yang tidak puas 27,3 persen. Sedangkan elektabilitas Jokowi 60,6% dan Prabowo 29%.

Sedangkan dalam survei Kompas akhir April lalu, elektabilitas Jokowi 55,9% sementara Prabowo hanya 14,1%.

Sementara itu, survei Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA pada 7-14 Januari 2018 menyimpulkan bahwa isu primordial dalam bentuk Islam politik, isu ekonomi, dan isu buruh asing berpotensi menjegal Jokowi di Pilpres 2019.

Prabowo-Anies

Bila PKS merelakan Anies Baswedan maju sebagai pendamping Prabowo, maka pasangan yang ‘ideal’ akan menjadi lawan berat Jokowi. Anies sebagai cawapres, akan menutupi hal-hal yang menjadi kekurangan Prabowo. Seperti pemahaman Islam, kedekatan dengan umat, kemudaan dan sebagainya.

Pihak Jokowi tidak lagi bisa mengolok-olok pasangan lawannya tentang Islam, sebagaimana 2014 lalu. Dulu, Projo mensinisi Prabowo tidak bisa mimpin shalat, baca Al Quran dan lain-lain. Mereka menyebarkan video Jokowi mimpin shalat berjamaah, umrah dan sejenisnya untuk menjatuhkan Prabowo. Kini mereka sulit untuk membidik dalam masalah itu, karena Anies akan tampil menutupinya.

Mungkinkah PKS mau mengalah dalam soal ini? Politik is possible. Di sini Prabowo tinggal memberikan tawaran beberapa kementerian yang akan dipegang PKS nantinya bila dia terpilih. Empat atau lima menteri mungkin cukup untuk bargaining politik dengan PKS.

Prabowo memang tidak muda lagi. 2019 nanti usianya akan mencapai 68 tahun. Tapi pemilu di Malaysia yang berlangsung saat ini yang dimenangkan Mahathir Mohammad, 91 tahun, memberikan inspirasi bagi banyak politisi Indonesia untuk terus bermain politik meski sudah udzur.

Anies Rasyid Baswedan yang akan mendampingi Prabowo bukan orang sembarang. Laki-laki kelahiran Kuningan 7 Mei 1969 ini, tahun 2019 baru berumur 50 tahun. Sebuah usia dimana biasanya laki-laki mencapai karier puncaknya. Gubernur DKI Jakarta dan mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan ini, dikenal prestasinya seabreg.

Ketika remaja, Anies pernah menjadi Ketua OSIS se-Indonesia pada tahun 1985. Pada tahun 1987, dia terpilih untuk mengikuti program pertukaran pelajar AFS dan tinggal selama setahun di Amerika. Sekembalinya ke Yogyakarta, Anies mendapat kesempatan berperan di bidang jurnalistik. Ia bergabung dengan program Tanah Merdeka di TVRI Yogyakarta dan mendapat peran sebagai pewawancara tetap tokoh-tokoh nasional.

Anies diterima masuk di Fakultas Ekonomi, UGM. Selama mahasiswa dia aktif dan bergabung dengan HMI. Di fakultasnya, Anies menjabat sebagai Ketua Senat Mahasiswa dan ikut membidani kelahiran kembali Senat Mahasiswa UGM setelah pembekuan Kemendikbud. Dia terpilih menjadi Ketua Senat Universitas pada kongres tahun 1992 dan membuat beberapa gebrakan dalam lembaga kemahasiswaan. Anies juga berperan aktif dalam demonstrasi turut menginisiasi demonstrasi melawan penerapan Sistem Dana Sosial Berhadiah pada bulan November 1993 di Yogyakarta.

Setelah lulus kuliah, Anies mendapat beasiswa Fulbright dari Aminef untuk melanjutkan kuliah masternya dalam bidang keamanan internasional dan kebijakan ekonomi di School of Public Affairs, University of Maryland, College Park pada tahun 1997. Lulus dari Maryland, Anies kembali mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan kuliahnya dalam bidang ilmu politik di Northern Illinois University pada tahun 1999. Dia bekerja sebagai asisten peneliti di Office of Research, Evaluation, and Policy Studies di kampusnya, dan meraih beasiswa Gerald S. Maryanov Fellow, penghargaan yang hanya diberikan kepada mahasiswa NIU yang berprestasi dalam bidang ilmu politik pada tahun 2004. Disertasinya yang berjudul Regional Autonomy and Patterns of Democracy in Indonesia menginvestigasi efek dari kebijakan desentralisasi terhadap daya respon dan transparansi pemerintah daerah serta partisipasi publik, menggunakan data survei dari 177 kabupaten/ kota di Indonesia.

Selesai mengambil kuliah doktor pada 2004, Anies sempat bekerja sebagai manajer riset di IPC, Inc. Chicago, sebuah asosiasi perusahaan elektronik sedunia. Ia kemudian bergabung dengan Kemitraan untuk Reformasi Tata Kelola Pemerintahan sebuah lembaga non-profit yang berfokus pada reformasi birokrasi di beragam wilayah di Indonesia. Selanjutnya ia menjadi direktur riset The Indonesian Institute. Ini merupakan lembaga penelitian kebijakan publik yang didirikan pada Oktober 2004 oleh aktivis dan intelektual muda.

Pada 15 Mei 2007, Anies dilantik menjadi Rektor Universitas Paramadina, menggantikan posisi yang dulu ditempati oleh cendekiawan Muslim, Nurcholish Madjid. Dilantiknya Anies menjadi rektor membuatnya tercatat sebagai rektor termuda di Indonesia, di mana saat itu usianya baru menginjak 38 tahun.
Selain banyak memberikan beasiswa bagi mahasiswa Paramadina, Anies juga membuat program mata kuliah wajib aktikorupsi.
Pada tahun 2009, merintis berdirinya Gerakan Indonesia Mengajar. Gerakan ini menggalang para mahasiswa dan alumni, untuk mengajar di berbagai daerah terpencil dan pedalaman di Indonesia. Tahun 2013, ia membuat Gerakan Turun Tangan. Gerakan ini mengajak mengajak semua orang terlibat melunasi janji kemerdekaan. TurunTangan mengajak semua orang untuk ikut terlibat mengurus negeri ini dengan mendorong orang baik mengelola pemerintahan. Sampai Juli 2014, relawan yang berhasil dikumpulkan sebanyak 35.000 lebih relawan.

Tahun 2014, Anies menjadi juru bicara cawapres Jokowi-JK. Di tangan Anies, Jokowi menjadi pribadi yang cemerlang. Ia pandai mengkomunikasikan program-program Jokowi-JK ke masyarakat. Akhirnya Jokowi-JK memenangkan pemilu 2014, dengan raihan suara 53,15% mengalahkan Prabowo-Hatta 46,85% suara.

Setelah Jokowi dilantik, Anies kemudian diangkat menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Anies menilai bahwa pendidikan adalah kunci peningkatan kualitas manusia. Ia merasa peningkatan kualitas pendidikan akan terjadi dengan meningkatkan kualitas guru. Menurutnya pendidikan adalah interaksi antar manusia di mana peran guru menjadi begitu sentral. Peningkatan kualitas guru adalah salah satu hal yang ingin ia lakukan selaku Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia.

Anies banyak membuat gebrakan selama jadi Mendikbud. Diantaranya : menunda pelaksanaan Kurikulum 2013 dan mengembalikannya ke Kurikulum 2006, serta menerapkan Kurikulum 2013 pada jumlah sekolah yang terbatas, mengubah Ujian Nasional bukan sebagai tolak ukur kelulusan, tetapi hanya sebagai pemetaan pemerataan kualitas pendidikan daerah. Selain itu juga Anies membentuk Indeks Integritas Ujian Nasional untuk mengukur kejujuran siswa setiap daerah. Membuat Program Uji Kompetensi Guru dan Sertifikasi Guru untuk meningkatkan kompetensi guru, membentuk Direktorat Keayahbundaan untuk menguatkan peran orangtua dalam mendidik anak. Menghapus Masa Orientasi Sekolah yang dilakukan oleh Siswa/OSIS dan digantikan oleh Pengenalan Lingkungan Sekolah dari Pihak Sekolah dan lain-lain.

Entah mengapa, Jokowi kemudian memecatnya. Pada 27 Juli 2016, Anies Baswedan digantikan oleh Muhadjir Effendy.

Dicopot Jokowi dari Mendikbud, akhirnya Anies ikut bertanding dalam perebutan kursi gubernur 2017. Anies-Sandi berhasil mengalahkan telak pasangan Ahok dengan suara 57,95% melawan 42,05%.

Tanggal 16 Oktober 2017, Anies diangkat resmi menjadi gubernur DKI Jakarta. Ia tidak melewatkan kesempatan untuk membela rakyatnya dalam awal pidatonya di Gedung Balai Kota DKI Jakarta. Ia menunjukkan perlawanannya terhadap Luhut Binsar Pandjaitan yang selalu mengganggunya ketika masa pertama-tama menjadi gubernur.

Kini banyak prestasi ditorehkannya selama menjadi gubernur. Mulai dari pembubaran tempat maksiyat Hotel Alexis, pembebasan sepeda motor di jalan-jalan protokol Jakarta, pemihakan kepada ekonomi rakyat kecil, penolakan terhadap reklamasi pantai utara Jakarta dan lain-lain.

Di dunia internasional laki-laki keturunan Arab ini seabrek prestasinya. Diantaranya : pada 2004 ia menerima penghargaan Gerald Maryanov Fellow dari Departemen Ilmu Politik Universitas Northern Illinois. Pada 2008 Majalah Foreign Policy memasukkan Anies Baswedan dalam 100 Intelektual Publik Dunia. Anies merupakan satu-satunya orang Indonesia yang masuk pada daftar hasil rilis majalah tersebut. Dalam daftar itu nama Anies sejajar dengan tokoh dunia seperti Noam Chomsky dan para penerima nobel seperti Shirin Ebadi, Al Gore, Muhammad Yunus, dan Amartya Sen. Pada Februari 2009 ia terpilih menjadi salah satu Young Global Leaders yang diberikan oleh World Economic Forum.

Pada April 2010, Anies terpilih sebagai satu dari 20 tokoh yang membawa perubahan dunia untuk 20 tahun mendatang versi majalah Foresight yang terbit di Jepang. Nama Anies berdampingan dengan Vladimir Putin (Perdana Menteri Rusia), Hugo Chavez (Mantan Presiden Venezuela), David Miliband (Menteri Luar Negeri Inggris) dan lain-lain.

Walhasil, Pasangan Prabowo Anies tentu sangat ditakuti Jokowi dan gengnya. Jokowi ‘kalah awu’ bila menghadapi pasangan ideal itu. Wallahu azizun hakim. II

Izzadina



0 Response to "Anies Maju Cawapres, Sandi Jadi Gubernur"

Post a Comment

Pembaca dapat mengirimkan komentar terkait artikel atau berita yang ditayangkan. Isi komentar bukan merupakan pandangan, pendapat ataupun kebijakan kami dan sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Pembaca dapat melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Kami akan menimbang setiap laporan yang masuk dan dapat memutuskan untuk tetap menayangkan atau menghapus komentar tersebut.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel