Advokat JJ Amstrong Sembiring Tenggarai Ada Enam Kejanggalan Perkara Ersie


JakartaDaily.ID |  Pengacara Senior, JJ Amstrong Sembiring mendatangi Pengadilan Negeri Kota Tangerang terkait dengan permohonan gugatan Praperadilan yang diajukan Amstrong atas nama Kliennya Ersie. Ersie adalah Karyawan PT. Almega Nata Sarana (PT. ANS) yang bergerak dalam bidang developer property yang sebelumnya dilaporkan ke Polisi melalui Kepala Keamanannya bernama Dadang Iskandar atas tuduhan telah melakukan Penggelapan uang Perusahaan.

Sebelumnya Ersie dan PT ANS telah membuat kesepakatan untuk memulangkan semua uang sejumlah yang dituduhkan perusahaan. Ersie dan keluarganya telah menjaminkan 1 unit Sepeda Motor, 1 Unit Mobil dan 1 Sertifikat rumah warisan milik keluarga Suami Ersie. Kesepakatan itu dibuat Ersie sebagai jalan untuk bertanggung jawab atas pengelolaan uang perusahaan.

Namun sayangnya, tanpa sepengatahuan Ersie, Pihak perusahaan melalui Dadang Iskandar telah melaporkan Ersie ke Polisi. Polisi sempat menangkap Ersie dan menahan selama 3 hari, kemudian setelah kasusnya dilimpahkan ke Kejaksaan, oleh Kejaksaan Ersie dijebloskan ketahanan. Kini Ersie berada di "Penjara" Lapas Anak Wanita Tangerang.

Ironisnya, kesepakatan yang dibuat Ersie dan Perusahaannya tidak berlaku apa-apa, padahal barang-barang yang dijaminkan itu masih ada di perusahaan, disita dan tidak dipulangkan. Etika baik Ersie menjadi sia-sia. Ibu tiga anak  ini dipaksa berpisah dengan anak-anaknya. Malangnya, salah satu anaknya masih berusia 8 bulan.

Ersie pun tidak terima, melalui kuasa Hukumnya, JJ Amstrong Sembiring SH.MH, mengajukan gugatan Praperadilan ke PN Tangerang.

Enam Poin Kejanggalan

JJ Amstrong mengatakan bahwa penangkapan yang dilakukan kepolisian terhadap Ersie dinilai Amstrong telah keluar dari SOP Kepolisian. "Ada sejumlah kejanggalan dalam proses penangkapan dan penahanan yang kita duga tak sesuai SOP, Makanya, kita mengajukan praperadilan terhadap kasus Ersie." Kata Amstrong saat Konferensi Pers di PN Tangerang, kemarin.

Menurut Amstrong, berdasar atas keterangan kliennya dengan sejumlah bukti-bukti, Kasus ini cacat hukum. "Saya menilainya begini, yang pertama tidak ada Penyitaan. Ketika saya tanya kepada Principal, suami Ibu Ersie, tidak ada penyitaan yang dilakukan Kepolisian."

"Kedua, kalau kita bicara dengan aturan hukum, kan harus ada surat panggilan dari Kepolisian. Surat panggilan itu wajib, kalau dalam bahasa hukum, kalau wajib itu sifatnya imperatif. imperatif, itu artinya kalau tidak dilaksanakan ada sanksi, ada ganjaran, ada Punishment. Tapi Itu tidak dilakukan. Ketika saya tanyakan, pada tanggal 9 sampai tanggal 12 Agustus, (yakni) pada saat Ersie ditahan, itu tidak ada surat panggilan. Ibu Ersie serta merta tiba-tiba dijemput dan dibawa ke kantor polisi," Jelas Amstrong.

Ketiga, kata Amstrong, Paska penahanan, atau setelah dari penahanan tersebut, ada hal yang sangat tidak sesuai dengan aturan main, prosedural atau SOP-nya polisi. Yaitu tidak adanya surat tembusan (yang diberikan) kepada pihak keluarga. Walaupun berkali-kali polisi mengatakan itu bukan penahanan. Tapi menurut Amstrong, Itu hanya teorinya, namun Prakteknya?

"Kalau orang itu tidak boleh pulang ke rumah, ya berarti itu penahanan. Kalau bahasa sarkastiknya atau bahasa kasarnya, itu penculikan..! kalau dalam aspek sosiologinya itu, Penculikan. Karena tidak dilakukan dengan prosedural hukum yang baik," Jelas Amstrong.

Selanjutnya, Kata Amstrong, terkait dengan penangguhan Penahanan, Ketika tidak ada surat Panggilan,  dan ketika sudah selesai ada penangguhan penahanan. "Tapi penangguhan penahanan ini juga ada sesuatu yang aneh bin ajaib ya, Saya coba tanya lagi, ada nggak surat penangguhan penahanan tersebut? Itu tidak ada!" Paparnya.

"Jadi asumsi saya; Ini kan aturan KHUP ya, kalo orang melakukan penangguhan penahanan, biasanya ada surat yang akan dimohonkan kepada pihak Kepala Kepolisian. Itu tidak ada. Berarti Perbal, berarti bisa, kok bisa begitu. Nah ini juga jadi pertanyaan saya, "The Big Question!", pertanyaan besarnya? ini ada apa nih?" jelas Amstrong mencurigai.

Yang keempat, kurang lebih 8 bulan kemudian itu ada surat panggilan. Namun  Amstrong menilai surat panggilan itu seolah-olah hanya untuk memenuhi standar SOP kepolisian. "Seolah terlihat seperti memenuhi standar SOP gitu loh." cetus Amstrong.

Pihaknya heran, sekalinya muncul surat panggilan, tetapi tidak disebutkan surat pemanggilan keberapa, apakah yang kesatu, yang kedua, yang ketiga? sebab Selama ini kan tidak ada surat panggilan.

Dari situlah serta merta Ibu Ersi, dari surat panggilan pertama hingga dijemput pada tanggal 16 april, kemudian dibawa ke Kejari dan tidak pulang lagi sampai detik ini.

"Artinya ini ada kejanggalan, ada penyimpangan dan ketika terakhir Ibu Ersie itu dijemput, itu tidak diberikan kesempatan untuk diberikan keterangan-keterangan," Kata Amstrong.

Yang kelima, kalau nanti sekiranya, anggaplah (kasus ini.red) bisa berjalan lengkap atau P21, tapi sejumlah keganjilan seperti tidak adanya penyitaan dan lain sebagainya, Amstrong bertanya-tanya, bagaimana Jaksa mau melakukan dakwaan, sebab tidak ada dasar pijakannya yang secara otentik hukum itu nyata dan jelas.

"Wah itu bisa akan menjadi bumerang buat yang bersangkutan (Jaksa)," jelas Amstrong.

"Yang keenam, untuk sementara ini kita abaikan dulu, Anggaplah ini merupakan formulasi saya yang sangat rahasia ya untuk pembelaan di tingkat pengadilan, tapi konsen saya, Saya melakukan praperadilan untuk melihat SOP cara-cara kerja polisi pada saat penangkapan dan penahanan, itu dulu untuk sementara." Tandas Amstrong.

Ketika ditanyakan apakah optimis dapat memenangkan Praperadilan ini? JJ Amstrong menjawab, "Kalau dalam scienties hukum, kebetulan saya juga dosen mengajar acara Hukum pidana dan Perdata, Kalau kita bicara teoritis, kalau Hakim punya moral yang baik dan objektif dan Fair atau adil, Itu cacat. SOP-nya cacat berarti sudah bertentangan dengan KUHAP kitab undang-undang hukum acara pidana dan itu harus dibatalkan dan intinya, ibu Ersi harus dibebaskan dari rumah tahanan." Kata Amstrong.

Kejujuran Hakim

Dia menegaskan, Jika permohonan Praperadilannya ini disetujui Pengadilan untuk disidangkan Minggu depan, Amstrong meminta Hakim untuk sungguh-sungguh berlaku jujur dan adil.

"Jika Minggu depan digelar persidangan di PN Tangerang, Saya minta hakimnya dengan sungguh-sungguh ya, sebab intinya kita mengajukan praperadilan ini sebagai fungsi kontrol untuk melindungi hak asasi orang. itu dikonstruksinya praperadilan, jadi untuk melindungi hak asasi orang. Hak setiap warga negara Indonesia." Tegas dia.

Artinya sungguh-sungguh di sini, kata Amstrong, jangan sampai nanti ketika kita bersidang sekali dua kali tiga kali, tiba-tiba keluar P21, bukti sudah lengkap dan diajukan ke pengadilan, otomatis praperadilan ini gugur. "Jangan sampai terjadi, ini prediksi saya, Jadi saya minta agar Hakim sungguh-sungguh, dan punya moral hukum yang baik." Pungkasnya.

Ersie saat ini berada di Lapas Anak Wanita Kota Tangerang. Sebelumnya, salah seorang yang diberi kuasa untuk mengurus Ersie, Agus Dharma Wijaya menyayangkan sikap dari PT. ANS terlalu ceroboh dalam mengambil langkah ke proses hukum. Pasalnya, Sdri Ersie telah mengakui dirinya memang bersalah sejak tahun 2015.

Pelanggaran Kesepakatan

Dikatakan Darma, bahwa Ersie bukan menggelapkan uang perusahaan secara utuh, tetapi ia menerangkan terkait pengambilan dana tersebut sebagai operasional dengan angka tentatif kisaran 5jt – 10jt setiap pengambilan kas dalam bentuk cek perusahaan dari tahun 2015 – Juli 2017, "Bukti bukti bisa dilampirkan pengambilan ceknya di BANK terkait," kata Dharma.

Darma menilai, Dadang Iskandar telah berlaku ceroboh dengan melaporkan Ersie ke Polsek Balaraja sebab menurut Darma, pelaporan itu tidak memenuhi bukti cukup dan terkesan mengada ngada. “Ersie disangka telah menggelapkan uang perusahaan dengan jumlah awal diatas 650jt. Namun tiba tiba di BAP kepolisian naik menjadi 900jt tanpa ada bukti yang jelas.” kata dia.

Sebelumnya, sudah terjadi kesepakatan antara kuasa PT. ANS Dadang Iskandar dengan keluarga Ersie tertanggal 1 Agustus 2017, yang isinya pengembalian uang perusahaan harus dikembalikan secara keseluruhan dengan mencicil, dan pihak keluarga telah menjaminkan setifikat tanah berikut rumah warisan keluarga senilai 700jutaan, asuransi senilai 250juta, dan motor Ninja 250cc berikut BPKB. Surat perjanjian itu telah disepakati bersama.” papar Darma.

Ironisnya, Dadang atas nama PT. ANS tiba tiba melakukan pelaporan ke polsek Balaraja tertanggal 9 Agustus 2017, dengan Nomor LP/21/K/VIII/2017 Sektor Balaraja. Ersie kemudian ditangkap dengan tuduhan penggelapan dalam jabatan dengan pasal 374 KUHPidana. Kini dalam penjara, Ersie bergantung pada Kemurahan hati Hakim yang akan menyidangkan gugatan Praperadilannya.

(hw/Rls).

No comments

Pembaca dapat mengirimkan komentar terkait artikel atau berita yang ditayangkan. Isi komentar bukan merupakan pandangan, pendapat ataupun kebijakan kami dan sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Pembaca dapat melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Kami akan menimbang setiap laporan yang masuk dan dapat memutuskan untuk tetap menayangkan atau menghapus komentar tersebut.