Terjadi di Tangerang! Sudah 3 Kali Bayar Cicilan Sertifikat Mau Dilelang



JakartaDaily.Id |  Nasib malang menimpa nasabah pembiayaan PT.  WANNAMAS MULTI FINANCE (WMF),  pasalnya pinjaman nasabah yang baru memasuki bulan ke 9 dari kontrak kredit 48 bulan, jaminan sertifikat diduga sudah dipindah ke bank lain dan hendak dilelang. 26/4/18

Hal ini menimpa pada diri Dahlan (debitur)  yang saat dikomfirmasi melalui Lia (anak Dahlan,  red).  Saat itu, Dahlan melakukan pinjaman di perusahaan pembiayaan PT.  WMF  sebesar 500 juta dengan jangka waktu kredit selama 48 bulan dan saat ini kredit Dahlan memasuki bulan ke 9, karena usaha Dahlan mengalami kemacetan sehingga untuk melakukan kewajiban angsuran menjadi terhambat dan akhirnya menunggak sampai 6 bulan.

Menurut Lia,  dirinya merasa kaget dan bingung dengan aturan yang tiba-tiba diterapkan oleh pihak finance,  pasalnya dengan keterlambatan angsuran ini berdampak pada terancamnya jaminan sertifikat Dahlan ini akan dialihkan kepada pihak ke tiga atau bank lain dan selanjutnya rumah akan dilelang.

Kepada media dia menceritakan bahwa awalnya Dahlan memiliki pinjaman sebesar 500 juta kepada PT WMF dengan jaminan sertifikat dan jangka waktu kredit 48 bulan dan saat ini menginjak angsuran yang ke 9, angsuran Dahlan menunggak selama 6 bulan dan berdasarkan ketentuan yang dirasa sepihak oleh pihak Finence apabila dilunasi saat ini mencapai 630 juta dengan rincian pokok dan denda per hari 48.000/Hari.

Lebih lanjut, menurut penuturan Lia,  saat ini dirinya hanya sanggup melunasi pinjaman itu dengan angka 500 juta karena menurutnya dirinya sudah membayar 3 kali angsuran,  namun niatan itu selalu terganjal dengan segala macam intimidasi dan ancaman para oknum yang mengaku dari internal pihak PT. WMF.

Senada juga disampaikan oleh LND (inisial) Kepala Cabang WMF (BSD) Serpong Tangerang, ketika di konfirmasi LND bahkan mengatakan sertifikat sudah dialihkan kepada bank Viktoria dan saat ini dalam proses pelelangan dan yang paling membingungkan dari statement LND dirinya mengatakan bahwa PT. WMF adalah unit usaha syariah namun untuk perhitungan bunga dan denda PT WMF tidak menggunakan sistem syariah.

Menanggapi persoalan ini Samsul selaku ketua tim investigasi Lembaga Perlindungan Konsumen YAPERMA angkat bicara, bahwa diduga pihak PT WMF ini banyak melakukan pelanggaran UU perbankkan dan UU perlindungan Konsumen. Hal ini harus diselesaikan baik itu secara kekeluargaan dan atau secara hukum, pasalnya melihat fakta yang ada tidak selayaknya pihak bank melakukan tindakan yang sangat jelas-jelas menggunakan aturan yang sepihak. (Rel/Rls)

No comments

Pembaca dapat mengirimkan komentar terkait artikel atau berita yang ditayangkan. Isi komentar bukan merupakan pandangan, pendapat ataupun kebijakan kami dan sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Pembaca dapat melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Kami akan menimbang setiap laporan yang masuk dan dapat memutuskan untuk tetap menayangkan atau menghapus komentar tersebut.