Preman Berkedok Debt Colector Dibekuk TPP Polres Jakbar


JakartaDaily.ID | Tim Pemburu Preman (TPP) Polres Metro Jakarta Barat dibawah pimpinan Ipda Gusti Ngurah Astawa mengamankan 9 orang preman berkedok Debt Colector  lantaran diduga mengancam nyawa korbannya (empunya hutang). Ke sembilan pelaku itu ditangkap di Jalan Duri Selatan, Tambora Jakarta Barat, Selasa (10/04) malam

Kepala Team Pemburu Preman,  Ipda Gusti Ngurah Astawa menerangkan, ia  mendapatkan laporan dari masyarakat bahwa adanya segerombolan sang penagih hutang  melakukan penagihan yang disertai melakukan ancaman terhadap korban.

Mendapati laporan tersebut, anggota Tim Pemburu Preman langsung bergerak ke lokasi dan langsung  mengamankan segrombolan Debt Colector tersebut.

"Anggota langsung menangkap preman yang sedang melakukan penagihan. Kita tangkap karena mengancam nyawa korban," Terang Ipda Gusti Ngurah

Selanjutnya, para preman yang berkedok sebagai penagih hutang itu diserahkan Tim Reskrim Polres Metro Jakarta Barat untuk dimintai keterangannya.

Adapun kesembilan pelaku tersebut diantaranya, Syprianus  Gedo, Vicensius Jemmy, Richard GWD, Fransiskus  Xaferius Maju Balu, Rischard Diaz, Irwanto, Victor Cornelis  Dehoog, Abdul  Kadir  Laki  Lengo, dan Jerry  Nugroho

Ipda Gusti Ngurah Astawa menegaskan, ia bersama Tim Pemburu Preman akan terus menyusuri jalan-jalan di wilayah hukum Jakarta Barat terlebih daerah-daerah yang dianggap rawan kejahatan.

Sesuai dengan arahan Pimpinan Kapolres Metro Jakarta Barat Kombes Pol Hengki Haryadi SIK MH untuk menekan angka kriminalitas dan aksi premanisme dan tidak segan-segan menindak tegas terukur jika berani mencoba melawan petugas.

"Saya tegaskan tidak ada tempat bagi preman di Jakarta Barat," tegasnya. (Ashari / JNN)

No comments

Pembaca dapat mengirimkan komentar terkait artikel atau berita yang ditayangkan. Isi komentar bukan merupakan pandangan, pendapat ataupun kebijakan kami dan sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Pembaca dapat melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Kami akan menimbang setiap laporan yang masuk dan dapat memutuskan untuk tetap menayangkan atau menghapus komentar tersebut.