Pengakuan Korban Peredaran Uang Palsu di Pasar Kota Agung Tanggamus


JakartaDaily.ID | Dari tempat kejadian perkara (TKP) perkara uang paslu, patut juga disimak modus yang dilakukan oleh pelaku saat memperdaya korban. Ternyata, begini Modusnya, sebagaimana diutarakan oleh korban peredaran Uang Palsu di Pasar Kota Agung.

Menurut pengakuan korba pengedar uang palsu di Pasar Kota Agung dengan tersangka Agustiawan (24) kemarin Rabu (21/2/18) itu diketahui modus tersangka mengedarkan uang palsu dengan cara berbelanja pakaian, pulsa dan kelengkapan handphone.

"Tersangka dengan sengaja mengedarkan uang palsu dengan cara membelanjakannya kepada para pedagang di pasar kota agung dengan tujuan memperoleh barang dan kembalian uang asli dari korbannya," kata korban, seperti dikutip Kapolsek Kota Agung AKP Syafri Lubis, hari ini.

Setelah ditangkap, tersangka mengakui membeli uang palsu 13 lembar pecahan 50 ribu dengan membayarnya Rp. 150 ribu uang asli. Uang palsu tersebut dibelinya dari pelaku bernama Dedi asal Lampung Timur yang dikenalnya saat sama-sama bekerja di Jakarta namun baru-baru ini berjumpa di Tanggamus.

"Saya bertemu Dedi di jembatan Jembatan Pekon Terbaya, dan dia memberikan 12 lembar uang palsu pecahan 50 ribu. Saya disuruh membayarnya Rp. 150 ribu," ujar Agustiawan.

Selanjutnya tersangka mulai membelanjakan uang palsu yang didapat. Seperti membeli celana, baju dan pulsa, aksesoris ponsel. Pengakuan tersangka dia baru melakukannya baru sekali.

Namun berdasarkan pengakuan para korban. Mereka sudah pernah bertransaksi dengan pelaku lebih dari 3 bulan. Seperti keterangan Anudin (19) pedagang pakaian di pasar kota agung, mengungkapkan pelaku datang ke tokonya membeli celana dengan harga 55 ribu, pelaku memberikan uang pecahan 50 selembar dan pecahan 5 ribu selembar lalu langsung pergi kearah jalan raya.

"Kemarin sekitar pukul 13.00 Wib datang sendirian membeli celana, setelah dia pergi lantas saya terawang ternyata pecahan 50 ribu palsu. Kemudian saya kejar dan berhasil ditangkap polisi dijalan depan pasar," ungkapnya.

Senada dengan korban pertama, korban selanjutnya Anton (35) pedagang pakaian mengatakan 2 bulan lalu pelaku datang membeli switer seharga 60 ribu. Kemudian pelaku menbayar menggunakan pecahan 50 ribuan dan pecahan 5 ribuan 2 lembar.

"Karena saya sibuk jadi saya kantongin aja, selang waktu 5 menit dia pergi dan saya cek dengan menerawang uangnya ternyata palsu," kata Anton.

Pun demikian, Doni (30) yang juga pedagang pakaian mengalami kerugian sebesar 50 ribu saat pelaku membeli baju seharga 120 ribu, dengan membayar menggunakan uang pecahan 50 ribu selembar dan 6 lembar pecahan 10 ribuan.

"Sekitar bulan kemarin, pelaku datang membeli baju, awalnya saya tidak tau kalo itu uang palsu. Tetapi teman saya yang juga pernah mendapat uang darinya memberitahukan bahwa uang itu palsu. Benar saja setelah saya cek ternyata pecahan 50 ribuan itu adalah palsu," jelasnya.

Yopi (35), penjual pulsa dan perlengkapan handphone menceritakan saat pelaku datang membeli karet/kondom handphone oppo transaksi senilai 20 ribu dibayar pelaku menggunakan pecahan 50 ribuan.

"Karena dia membayar menggunakan pecahan 50 ribuan, tidak saya cek langsung saya kantongin dan diberikan kembalian 30 ribu. Nah pas sales datang baru ketahuan uangnya 50 ribu tersebut palsu karena hanya satu-satunya pecahan," pungkasnya.

Jurnalis : Azhimi

0 Response to " Pengakuan Korban Peredaran Uang Palsu di Pasar Kota Agung Tanggamus"

Post a Comment

Pembaca dapat mengirimkan komentar terkait artikel atau berita yang ditayangkan. Isi komentar bukan merupakan pandangan, pendapat ataupun kebijakan kami dan sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Pembaca dapat melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Kami akan menimbang setiap laporan yang masuk dan dapat memutuskan untuk tetap menayangkan atau menghapus komentar tersebut.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel